KADO REFLEKSI : MILAD 59 TAHUN IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
Hari ini 14 maret 2023, umur Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tepat pada angka 59 tahun. Setengah abad lebih IMM berdiri tentunya bukanlah waktu yang singkat, apalagi jika menilik kepada kontribusinya yang telah diberikan terhadap bangsa. Di tulisan singkat ini, penulis ingin mengajak para pembaca untuk nantinya bisa melakukan refleksi dan sedikit menilik kembali sejarah bagaimana Ikatan ini bisa terbentuk dan ada. 14 Maret 1964 – 14 Maret 2023.
Sejarah Singkat
Farid
Fathoni dalam bukunya, Kelahiran yang
dipersoalkan (1990) menyatakan bahwa kelahiran IMM merupakan suatu
keharusan sejarah. Jika melihat dari pernyataan tersebut tentunya bisa kita
bayangkan bersama akan adanya situasi genting yang memaksa perlu adanya
organisasi IMM dibangsa ini. Berdirinya IMM tentunya tidak terlepas akan wacana
yang telah dibangun pada Muktamar Muhammadiyah ke-25 di Batavia (Jakarta) yang
ingin menghimpun mahasiswa Muhammadiyah secara mandiri. Adapun faktor – faktor lain
yang menyebabkan lahirnya IMM itu sendiri tentunya sudah sering kita
mendengarnya, yang mana ada faktor dari internal dan eksternal. Faktor eksternal
yang terjadi antara lain karena situasi kehidupan dan berbangsa yang tidak
stabil, terpecah belahnya umat islam kala itu, ketidak rukunan para pemuda
diranah kampus dalam masalah politik dan merosotnya ilmu agama dan akhlak umat.
Dan di internal sendiri, yaitu dikarenakan dibutuhkanya para kader-kader
mumpuni seiring berkembangnya pergerakan Muhammadiyah kala itu. Upaya
menghimpun Mahasiswa Muhammadiyah dalam suatu organisasi resmi juga mendapatkan
banyak penolakan kala itu, salah satu alasanya karena Muhammadiyah merupakan
anggota istimewa Masyumi yang telah terbelenggu ikrar yang menyatakan HMI
adalah organisasi islam satu-satunya pada tahun 1949.
Perjuangan
yang dilakukan Djazman Al-Kindi tentunya bukanah suatu perjuangan yang mudah
dan instan. Tahun 1956, merupakan tahap pertama dalam upaya pendirian Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah kala itu. Ditahun tersebut, diadakan suatu kongres
Mahasiswa yang dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah di Yogyakarta, namun
sayangnya upaya tersebut harus kembali terhenti karena masih mendapat beberapa
penolakan. Singkat cerita, akhirnya pada tahun 1964, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
resmi berdiri menjadi penghimpun resmi para mahasiswa Muhammadiyah di kala itu.
Mengenal
Sedikit IMM
Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah merupakan organisasi otonom Muhammadiyah yang berada
diranah kampus. Sudah pasti tentunya IMM sendiri berjalan beriringan dengan
sebagai mana mestinya para mahasiswa. IMM didirikan oleh Djazman Al-kindi pada
tanggal 14 maret 1964. Melihat umurnya, sudah lebih dari setengah abad IMM masih
terus menghembuskan nafasnya dan mewarnai perjuangan Bangsa Indonesia.
Meski terhitung tidak muda lagi dalam usia, perjalanan IMM telah menapaki setiap denyut eksistensi kehidupan Bangsa, Muhammadiyah, dan Mahasiswa selama 59 tahun. Merupakan tugas bersama yang tak lagi mudah untuk merawatnya, bahkan sekedar untuk coba memahami pergeseran setapak demi setapak dinamika IMM itu sendiri. Apalagi jika berbicara terkait perubahan.
Sebagai
kader IMM, kita tentunya sudah amat mengenal dengan apa yang dinamakan Trilogi
dan Trikompetensi yang mana menjadi poin mendasar bagi pergerakan IMM. Dalam
triloginya, terdapat tiga poin yang menjadi sebuah arah pergerakan para kader,
antara lain adalah, keagamaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan. Tiga poin
tersebut lah yang menjadi sebuah acuan, dititik mana saja kader IMM harus
menaruh peranya. Lalu mengenai Trikompetensinya, yaitu Religiusitas,
Intelektualitas dan Humanitas. Tiga poin tersebutlah yang sudah semestinya
harus ada didalam diri kader IMM yang ideal.
Terlepas
dari trilogi dan trikompetensi, kita semua telah tahu apa tujuan dari IMM itu
sendiri. Yaitu “mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia
dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah”. Dan IMM memiliki slogan yang cukup
terkenal yaitu “Anggun dalam moral, Unggul dalam Intelektual.”
Kader
IMM haruskah masyarakat Muhammadiyah?
Pertanyaan seperti “haruskah menjadi kader Muhammadiyah terlebih dahulu untuk
masuk IMM” merupakan pertanyaan yang sering dilontarkan oleh para Mahasiswa yang
masih belum mengenal IMM secara mendalam, dan tentunya jawabanya adalah tidak harus. Memang kalau untuk kader biologisnya tetap diprioritaskan bahkan diwajibkan, tetapi terlepas dari itu, IMM sangat terbuka untuk siapapun yang mau berproses didalamnya. Hal yang perlu digaris
bawahi adalah tidak peduli siapapun dirimu, baik ataupun buruk, ketika memilih
masuk ke IMM, sudah pasti akan belajar dengan cara merujuk ke Muhammadiyah. Tetapi
bukan berarti orang yang bergabung harus orang Muhammadiyah, buktinya,
dilapangan banyak sekali kader yang bukan berasal dari background Muhammadiyah.
Kalau
megutip kata ketua PC IMM Banyumas, Immawan Gigih, “Kader IMM tidak lah
sepenuhnya diisi oleh orang-orang yang baik, namun dipenuhi dengan orang yang
mau berubah menjadi lebih baik.” Bisa disimpulkan, modal utama untuk ber-IMM
adalah ketika seorang individu ingin berproses menjadi hamba yang lebih baik. Terutama diranah kampus, sebagai mahasiswa
sudah semestinya harus berpegang teguh kepada prinsip bagaimana semestinya
mahasiswa itu sendiri. Terlebih jika kita sedikit menilik sejarah menegenai peran
dan perjuangan Mahasiswa dimasa lalu, tentunya harus senantiasa dilestarikan.
Refleksi
Kader IMM
59
tahun, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berdiri tentunya bukanlah tanpa sebab.
Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas adalah standar ideal yang harus
dimiliki kader IMM. Memang berat tuk melengkapi ketiganya, mengingat juga
manusia tak ada yang sempurna. Namun yang menjadi pertanyaan "betulkah
kita sudah mengusahakan?"
Penulis
sebenarnya sedikit resah melihat kader IMM hari ini yang semangatnya kurang
menyeluruh. Trikompetensi seharusnya dijadikan tamparan untuk kita semua dan
dijadikan salah satu motivasi untuk lebih menghidup-hidupi dan berproses di IMM.
Sudah kah kita lihat bersama akan membludaknya partispasi dalam agenda – agenda
IMM yang ada?
59 tahun
umur IMM harus dijadikan refleksi oleh seluruh kadernya. Sebagai tonggak
pergerakan dan agent of change, IMM harus mampu mengusahakan dirinya menjadi
kader yang terbaik dari sega lini, minimal mengusahakan setiap diri disisi tri
kompentensinya.
Dalam pedoman Sistem Perkaderan Ikatanya (SPI), tertulis secara gamblang
dibagian awal yang mana dikatakan IMM sebagai organisasi Kader. Yang dimaksud
organisasi kader bukanlah organisasi pencetak kader secara kuntitas namun nihil
kualitasnya. Organisasi kader yang dimaksud adalah bagaimana IMM mencetak kader
- kader yang berkualitas, terutama dalam mengimbangi perkembangan zaman.
Prof. Haedar
Nashir menyebutkan secara
gamblang dalam buku IMM Autentik, bahwa IMM adalah organisasi intelektual. Sebuah
peradaban jelas akan maju jika didorong oleh salah satu hal, Intelektual. Beliau
dalam buku tersebut telah membedakan IMM dan pemuda Muhammadiyah dari
masing-masing tupoksinya sebagai organisasi yang diisi oleh pemuda. Bedanya,
IMM adalah organisasi Intelektualitas, terkhusus karena diisi oleh para
mahasiswa, dan pemuda Muhammadiyah lebih ke pengabdian Masyarakat.
Hal yang
jelas tidak
bisa kita bantah
lagi dari IMM dan yang membedakan dari organisasi lain adalah, ilmunya yang tak hanya sekedar
wacana, namun diiringi aksi praksis dalam dunia nyata. Menurut Kyai Kusen,
seorang budayawan Muhammadiyah dalam epilog buku baru kakanda Abdul Halim Sani, “IMM bukanlah wadah kajian sebagaimana forum-forum kajian
mahasiwa umunya yang hanya berorientasi pada wacana-wacana tanpa aksi.”
Hal ini juga selaras dengan
apa yang disampaikan Abdul Musawir Yahya dalam Prolog buku yang sama, yaitu Objektifikasi
Ikatan. Menurutnya “Wacana dan
keilmuan IMM tidak boleh hanya menjadi wacana utopis dan apalagi jauh dari
tingkah laku di kehidupan nyata.”
Yang jelas
59 tahun ini perlu dijadikan refleksi kader IMM, sejauh mana kita telah
mengusahakan diri kita dan umat menuju hal yang telah dicita-citakan. Semangat intelektual dan slogan –
slogan harus diimplemetasikan secara nyata.
Sebagai otonom Muhammadiyah, kita tentunya mengenal semangat Ilmu
Amaliah, Amal ilmiah. Semangat tersebut perlu diejawantahkan secara nyata. Penulis
mengajak melakukan refleksi buka berarti penulis sudah merasa baik, namun di
momentum ini, penulis ingin mengajak seluruh kader untuk bisa menghidup-hidupi
IMM yang lebih memberi dampak.
Anggun dalam
Moral, Unggul dalam Intelektual.
Abadi Perjuangan.
Billahi fi sabilil haq, fastabikhul
khairat.
"Bergerak Bersama, Membangun Peradaban"

Komentar
Posting Komentar