Memaknai sebuah cinta dari Plato dan Gurunya
![]() |
| Plato (427-347) Source on Google |
Pada zaman dahulu, ada sebuah percakapan menarik antara seorang Guru dan Muridnya yang membahas mengenai makna sebuah cinta. Murid itu adalah Plato, seorang filsuf Yunani yang cukup terkenal dimasanya. Begitu juga dengan gurunya, Socrates. Mereka merupakan para tokoh besar Filsafat Yunani yang mana teori-teorinya telah menginspirasi banyak pemikiran dimasa kini.
Suatu
hari, Plato bertanya kepada Gurunya, Socrates “Guru, Apa itu Cinta? Dan bagaimana
aku bisa menemukanya?”
Lalu
Socrates Menjawab, “Lihatlah kedepan sana, didepan, ada sebuah ladang Gandum
yang luas. Berjalanlah masuk kedalamnya, tetapi setelah kau masuk jangan sampai
kau mundur kembali. Didalamnya ambilah satu ranting yang kau anggap paling
besar dan sempurna, disaat itulah kau menemukan cinta.”
Tak lama
kemudian, Plato mengikuti apa yang telah dijelaskan oleh Gurunya. Ia Berjalan
masuk kedalam ladang Gandum yang luas tersebut. Selang beberapa waktu, Plato
keluar dari ladang tersebut dan kembali kegurunya dengan tangan kosong tanpa
membawa apapun. Lalu kemudian Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa
satu ranting pun muridku?”
Plato
pun menjawab, “Aku hanya bisa membawa satu ranting saja dan aku tidak boleh
mundur lagi (berjalan berbalik). Sebenarnya, didalam aku sudah menemukan ranting
yang paling sempurna, namun aku bimbang, aku tak tahu apakah ada ranting yang
lebih sempurna lagi didepan sana. Jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat
melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting
yang kutemukan kemudian tidak sebagus ranting yang tadi. Jadi pada akhirnya tak
kuambil sebatang ranting pun.”
Lalu
sang Guru menjawab, “Itulah Cinta.”
Di lain
hari, Plato kembali dan bertanya kepada Gurunya, “Guru, lalu apakah pernikahan
itu?”
Kemudian,
Socrates kembali memeritahan muridnya lagi, “Coba kau masuk hutan lagi, jalan
dari satu ujung ke ujung lainnya dan jangan berbalik. Cari sebatang pohon yang
paling besar, paling kuat, paling tinggi, paling bagus, dan paling cantik.”
Plato
pun patuh terhadap perintah gurunya dan kembali memasuki hutan. Tidak lama
kemudian Plato sudah kembali ke hadapan gurunya dengan membawa sebatang pohon.
Lalu sang guru bertanya. “Mengapa kau kembali begitu cepat? Sudahkah kau sampai
ke ujung jalan satunya? dan pohon yang kau bawa itu menurutku tidak bagus,
tidak terlalu besar, tidak terlalu tinggi, tidak terlalu cantik. Tolong
jelaskan, mengapa kau kembali begitu cepat dan memutuskan mengambil pohon
ini?"
Sang
Murid pun menjawab, “Saya memang hanya baru sampai sepertiga perjalanan ketika
saya memutuskan untuk mengambil pohon ini. Saya sadar pohon ini memang tidak
bagus2 amat seperti yg guru katakan.”
Guru
menanggapinya, “Kau telah menyadari hal itu, namun mengapa kau masih
mengambilnya?”
Plato
menjawab “Saya memutuskan mengambilnya karena saya takut sampai di akhir
perjalanan saya tidak menemukan pohon yang lebih bagus dari ini.”
Lalu guru berkata, “itulah pernikahan.”
Upaya
memahami
Jika
kita menganalogikan jalan dan hutan sebagai hidup dan perjalanan waktu yang
tidak dapat kembali, akankah kita menyesal telah melewatkan cinta, yang sampai
saat ini kita tak dapat menjawabnya. Jika kita analogikan ranting sebagai
cinta, akankah kita menemukan cinta yang sempurna. Apabila kita mengharapkan
suatu cinta yang sempurna, kita hanya akan berakhir pada ujung jalan dengan
ranting yang mungkin sangat jauh dari kesempurnaan yang pernah kita lihat yang
berada di sana dengan segala macam kenangan masa lalu. Sedangkan dalam
pernikahan adalah sebuah kompromi, untuk dapat menahan keinginan dan harapan
saat itulah kita akan mendapatkan cinta yang sempurna, dan cinta adalah hal
terindah yang dapat terjadi dalam hidup manusia.
Semakin
cinta dicari, semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika
kita dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan
keinginan berlebihkan akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan. Tak ada
satu pun yang didapat serta dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak
dapat diputar mundur. Terima cinta apa adanya.
Perkawinan
adalah kelanjutan dari sebuah cinta. Perkawinan merupakan sebuah proses
mendapatkan kesempatan. Ketika kau mencari yang terbaik di antara pilihan yang
ada, maka kau akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya. Ketika
kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu untuk mendapatkan
perkawinan itu. Karena kesempurnaan itu hampa adanya.
Semoga
Bermanfaat.

Komentar
Posting Komentar