PARADOKS PENGENALAN BUDAYA AKADEMIK KEMAHASISWAAN 2022

 

PBAK 2022


Mencari tahu lebih jauh mengenai statement yang sudah saya tuliskan di status Whatsapp Pagi ini “PBAK hari ini hanya menjadi alat politik”, tentunya bukan bentuk dari sentimen sepihak, tetapi juga disertai alasan yang menurut saya cukup kuat dan objektif. BACA HINGGA SELESAI JIKA INGIN TAHU POIN PENTINGNYA. 

 

Sebagai Pengantar, penulis ingin menekankan bahwa penulis sangat mempedulikan esensi dari setiap kegiatan yang ada dalam kampus UIN SAIZU tercinta, terutama dalam acara Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan. Penulis menegaskan setiap kegiatan intra harus diorientasikan dan dilaksanakan secara baik dan benar agar memiliki esensi yang besar untuk targetnya. Karena dirasa ada yang kurang tepat dan harus diperbaiki bersama, maka ditulislah tulisan ini tanpa mengesampingkan jutaan hal baik yang ada.

Akhir – akhir ini sedang dilaksanakan masa orientasi di kampus UIN SAIZU Purwokerto. Masa orientasi atau yang biasa dikenal sebagai Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan (PBAK) telah mulai dilaksanakan dari hari minggu tanggal 21 Agustus kemarin. PBAK di UIN sendiri hampir sama dengan masa orientasi dikampus-kampus lain, tentunya dengan dibagi dengan 2 sesi. Yang pertama sesi Universitas yang dilaksanakan secara serentak pada tanggal 21-23 Agustus kemarin dan juga tingkat fakultas yang pelaksanaanya setiap fakultas berbeda-beda tanggalnya. Di tulisan ini kita akan membahas keduanya secara singkat.

Yang pertama, sebagai salah satu panitia di PBAK Universitas tentunya ada beberapa kekecewaan yang saya dapatkan. Tentunya kekecewaaan ini bukanlah soal permasalahan teknis tetapi mengenai adanya hal finansial yang tidak jelas asal-usulnya. Mendekati hari pelaksanaan setelah berbulan-bulan mempersiapkan, banyak sekali hal tak terduga yang terjadi. Seperti yang pertama tiba-tiba ada kewajiban mahasiswa baru membeli atribut yang mereknya ditentukan dan hanya dari pihak DEMA yang menjualnya, yang dimana DEMA U adalah penyelenggara acara ini juga (tanpa sosialisasi kepanitia lain). Itu tanpa sepengetahuan dan pembahasan panitia selama berbulan – bulan mengadakan rapat pembahasan. Okelah kalau niatnya membantu, tetapi yang jadi masalah adalah dengan mewajibkanya terkesan mempersulit, padahal jika kita tau banyak UMKM yang berjualan disekitar kampus dan sebenarnya jika tidak diwajibkan dan memberi instruksi beli diluar, secara tdk lngsung kita membantu mereka. Yang lebih parah lagi cukup banyak mahasiswa yang sudah membeli dan melakukan transfer tidak terdata namanya dan tidak mendapat barangnya sehingga mereka terkena hukuman.  Kemarin masalah ini sudah sempat saya sampaikan dalam rapat evaluasi dan ada janji dari pihak DEMA akan mengembalikan uangnya, saya apresiasi penuh dan saya tunggu ya.

Hal lain mengenai finansial, DEMA U juga me-launcing suatu buku mengenai “Gejolak Perubahan” dan seluruh mahasiswa baru diwajibkan membelinya seharga RP. 35.000,-. Selain diwajibkan membeli itu, mahasiswa baru diwajibkan membeli kertas asturo kepada panitia 2 lembar guna pembuatan mozaik, dengan harga perlembarnya RP. 4.000,- (2x4K per anak). Dihari kedualah hari terakhir seluruh mahasiswa baru harus lunas membayarnya. Sebenarnya sudah diinfokan cukup jauh-jauh hari mengenai buku dan asturo, tetapi sebelumnya kita tidak diberi tahu harganya dan surprisee segitu harganya. Maba juga sudah pintar “kang, kertas segini mah 2 ribuan.”

Tetapi tahukah anda apa yang paling parah? Di hari itu juga ( hari pertama ) , setelah mahasiswa baru sudah mengeluarkan cukup banyak uang tiba-tiba datanglah sebuah produk makanan secara dadakan, yap tentunya sudah melakukan MOU dengan pihak DEMA untuk berkerja sama. Loh memang apa salahnya? Tiba-tiba mahasiswa baru diinstruksikan wajib membeli makanan tersebut masing - masing anak sejumlah 2 makanan. Yang dimana makanan tersebut dihargai 6 ribu rupiah satunya (1 anak mengeluarkan 12 ribu lagi), yang dimana jika beli diluar paling sekitar  4- 5 ribu. Kenapa saya katakan parah? Yang pertama itu sangat mengejutkan, bahkan ketua panitia pun terkejut mengetahui harganya. Kata pak ketupat, dia mengetahui akan adanya hal itu tetapi dia kira harganya tidak semahal itu. Lalu, panitia yang lain tidak tahu sama sekali akan hal tersebut (tanpa sosialisasi), terutama divisi pendamping yang bersinggungan langsung dengan mahasiswa baru. Yang kedua, pembaca harus paham banyak sekali mahasiswa baru yang mengeluhkan pengeluaran yang sangat banyak, dan mereka sudah tidak ada uang lagi. Ini sangat memberatkan dan sangat aneh, karna sebelumnya mahasiswa sudah disuruh membawa beras, makanan, minyak gelas, gula, dan lain-lain. Adapun alasan dari Presiden Mahasiswa disaat itu juga "PBAK kali ini mendapat anggaran dari kampus sekitar 90 juta lebih, namun masih sangat kurang untuk mencapai rencana anggaran biaya yang ada senilai 190 juta kurang lebih." Wow, sampai saat ini kita semua masih menunggu transparansi mengenai semua uang itu. Dari uang buku saja 35.000 X 3.000 Mahasiswa Baru sudah menutup 100 Juta lebih, belum yang lain-lain terutama dari anggaran kampus.

Begitu pula jika berbicara PBAK F, saya hanya ingin menyampaikan beberapa keluhan mahasiswa baru mengenai beberapa pembelian tapi yasudahla, alasan saya membuat status WA pagi ini sebenarnya saya tujukan kepada PBAK di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan tapi bukan dari segi permasalahan finansial. Lalu apa? Saya pikir PBAK kali ini sudah agak tersusupi hal lain, sudah ada beberapa kepentingan didalamnya. Yang dimana seharusnya PBAK itu untuk memperkenalkan budaya fakultas secara bersih dan netral tapi saya lihat hari ini, ada beberapa tindakan yang saya pikir tidak pada tempatnya. Selain sebagai pengenalan budaya fakultas, ada beberapa penanaman idelogi lain dan seperti ada unsur promosi – promosi salah satu organisasi. Kenapa saya bilang seperti ini? Pertama, hampir seluruh panitia PBAK FTIK serentak foto profilnya dengan menggunakan almameter suatu organisasi, adanya juga bentuk perkenalan – perkenalan lain dalam grup, pemakaian pin dan serentaknya para panitia meng-share status dengan caption ajakan bergabung (kurang etis selama PBAK). Ya kalau dibilang memang ada aturan secara tertulis, yajelas tidak. Tetapi kita juga harus belajar etika dan proffesional. Tentunya guna menggapai tujuan kegiatan, jika terlalu banyak kepentingan, yakinkah tujuan dan esensi ospek akan tersampaikan secara penuh?

Hal lain pagi ini, ada suatu hal lain yang mengebohkan. Salah satu Partai Politik Mahasiswa diberi undangan sebagai tamu Istimewa untuk menghadiri pembukaan PBAK FTIK. What? Sejak kapan? Perlu kalian pahami, yg diundang hanyalah salah satu parpolma, sedangkan partai lain tidak diundang dan yang paling lucu, ini instruksi langsung dari ketua DEMA FTIK (ada bukti, tidak hanya janji ucap). Loh kenapa kak dengan masalah diatas? Kalau teman-teman yang belum paham, ini adalah strategi membranding. Mahasiswa baru sering dipertemukan dan diajak agar esok bergabung dan mendukung. Sekali lagi ada nya upaya dan pemikiran seperti itu sangatlah tidak tepat, apalagi sebagai seorang pimpinan fakultas yang harus mengayomi seluruh mahasiswa fakultas tanpa syarat dan ketentuan apapun. Jika ada argumen memang tupoksi partai mengawal, yang pertama parpolma yang lain tak diundang? lalu yang kedua, yang memiliki tanggung jawab mengawal langsung adalah senat fakultasnya. Lagian parpolma ranahnya universitas dan saat ini bukan saatnya, apalagi diranah fakultas.

Tetapi inilah yang selalu saya soroti, kita terkadang seenaknya saja bertindak jika punya kuasa. Sudah semestinya, ketika sudah memimpin harus bisa memposisikan diri agar lingkunganya agak lebih netral, harus bisa mengesampingkan kepentinganya untuk mengabdi sebagai pemimpin. Harus bisa menghargai organisasi lain, menghargai anak netral. Kampus ini bukan milik satu identitas, UIN milik kita semua, FTIK milik semua mahasiswa bukan hanya suatu golongan saja. Bersainglah secara fair, jangan gunakan otoritas untuk melakukan hal yang berlebihan, apalagi dengan menggunakan momentum adanya mahasiswa baru yang masih polos.

Terakhir, pesan untuk mahasiswa baru “cerdaslah” kita berada dikampus islam dan kampus adalah laboratorium gagasan. Maka tugas kita sebagai mahasiswa sebagai sang intelektual adalah menjaga marwah tersebut. Jangan hanya suka teriak hidup Mahasiswa tapi kelakuanya tidak mencerminkan mahasiswa yang baik. Ingat, jargon itu terbentuk dari banyaknya pertumpahan darah perjuangan kala itu, jangan sembarang gaungkan jargon sakral itu apalagi untuk suatu kepentingan yang tidak perlu. Bukankah masa orientasi memiliki tujuan yang mulia? jangan ciderai tujuan itu dengan berbagai kepentingan. Laksanakan sesuai kemampuan, jangan neka neko kalau ujungnya memberatkan anggaran kita sendiri, Maba tidak akan menuntut banyak kok.

Sebagai penutup, tulisan ini saya lantangkan dengan argumentasi dan data, jika mau dibalas silahkan balas secara fair tanpa sentimen, tanpa menjatuhkan. Dalam konteks PBAK U, Penulis juga sudah menyampaikan ini didalam forum evaluasi PBAK U kala itu untuk berjalan sesuai tujuan utama tanpa dipolitisasi. Terakhir saya tetap mengapresiasi seluruh pihak, selain apa yang sudah saya sebutkan, pasti banyak jutaan kebaikan yang terjadi namun tidak bisa saya sebutkan satu persatu. #sukseskanPBAKsecarabersihdansehat 

Komentar

  1. Panjang umur untuk semua hal baik🌻

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah sudah terwakilkan, hanya saja kami sebagai maba tidak bisa apa" selain (manut) juga kami pun masih baru di lingkungan UIN Saizu. Semoga kedepannya semakin banyak hal baik untuk kampus kita tercinta.

    BalasHapus
  3. Panjang umur hal hal baik #save pbakuinsaizušŸ„€

    BalasHapus
  4. Masya Allah Tabarakallah... Semoga kita–para mahasiswa dapat senantiasa menjunjung tinggi toleransi dalam bingkai kemajemukan kampus, serta lebih bijaksana dalam bertindak.

    BalasHapus
  5. Saya rasa, kami tidak perlu tahu masalah internal panitia? Keringat PBAK juga masih tercium di baju kami yang belum dicuci, hihiiii. Artinya, PBAK masih baru kemarin sore, apa pantas masalah ini menjadi hidangan umum?. Politisasi memang akan ada disetiap lini kan? Bila ingin maju, majulah tanpa terlihat memundurkan. Terimakasih sudah memberi insight baru untuk kami. Cheers

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau bicara soal dapur, penulis tetap mempertimbangkan dapur mana saja yang cukup untuk internal saja. Kalau setiap dapur hanya milik panitia, tidak akan ada kebobrokan yang terbuka didunia ini.

      Kasus brigadir J, apakah hanya perlu di keep saja dari internal agar namanya tetap baik?

      Koruptor didlam kemenag apakah harus diinternalkan saja dalam kemenagnya agar citranya tetap baik?

      Ada kalanya memang harus dikeep dan ada juga beberapa hal yang harus di buka tentunya sbg pengingat bukan ujar kebencian.

      Dalam mempublikasi, penulis jg mempertimbangkan masalah keringat pbak yang masih ada.

      Membahas finansial karena PBAK U karena acaranya telah selesai,
      Jika Fakultas, kritik yang penulis berikan bukan soal finansial tetapi soal etika, harapanya bisa mjd evaluasi krn masih ada hari berikutnya.

      Namun sekali lg terimakasih atas masukanya, cheers.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memaknai sebuah cinta dari Plato dan Gurunya

KADO REFLEKSI : MILAD 59 TAHUN IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH

Menanggapi kebijakan MarketPlace Guru, Bagaimana?