Tidak Eksisnya organisasi kemahasiswaan hari ini : Benarkah & Salah siapa?

Source : Google

Akhir-akhir ini, para mahasiswa terkhusus yang bergabung dalam organisasi, mungkin sudah tidaklah asing dengan narasi bahwasanya organisasi kemahasiswaan hari ini sudah tidak semenarik yang dulu. Semakin hari, sebagai orang yang berkecimpung dalam organisasi nyatanya mulai bisa melihat kebenaran dari narasi tersebut. Entah dimulai dari sulitnya proses pengkaderan, sampai “setitiknya” partisipasi mahasiswa dalam agenda-agenda yang di adakan. Hal ini tentunya perlu dipikirkan secara matang dan serius oleh para pengurus organisasi kemahasiwaan yang ada. Bagaimana caranya para pengurus saling membenahi diri, merefleksi, tentunya guna menyelesaikan problematika yang ada.

Berbenah merupakan langkah yang tentunya amat penting. Coba pikirkan bagaimana bisa narasi tersebut muncul, apa kira-kira permasalahanya ya? Apakah benar permasalahan tersebut datang dari organisasi itu sendiri?  Bagaimana bisa para mahasiswa baru ataupun lama mendadak tidak excited dengan yang namanya organisasi kemahasiswaan tanpa suatu alasan? Rasanya tidak mungkin.

Jika berbicara mengenai menurunya ketertarikan mahasiswa dalam berpartispasi, mungkin tidak bisa secara sempit kita menyimpulkan alasanya hanya berasal dari internal organisasi, namun juga sangat memungkinan terjadi karena adanya hal-hal diluar organisasi. Dalam wawancara saya kepada beberapa mahasiswa baru, sebagian besar dari mereka menjawab, hal tersebut diakibatkan karena adanya tuntutan akademik yang semakin tinggi. Jadwal kuliah, tugas, dan ujian, yang mana membuat waktu untuk kegiatan ekstrakurikuler semakin terbatas. Beberapa mahasiswa juga merasa bahwa kegiatan organisasi hanya menghabiskan waktu dan energi tanpa memberikan nilai tambah pada diri mereka. Terlebih hari ini terdapat program tambahan pemerintah seperti MBKM, kampus merdeka yang makin membuat mahasiswa semakin padat kegiatanya. Apalagi dengan munculnya trend FOMO, yang membuat mahasiswa takut tertinggal dengan lingkungan sekitarnya, dikarenakan adanya pemahaman bahwa masuk organisasi hanya akan menghambat berjalanya proses akademik. Hal tersebut tentunya akan membuat mahasiswa berfikir dua kali sebelum berkecimpung di dalamnya. Tetapi menurut pandangan saya, faktor ini tidak lah sepenuhnya benar, karena jika dilihat dilapangan nyatanya masih banyak mahasiswa yang tertarik masuk dan balance dalam hal akademiknya. Kalau berbicara soal penurunan minat, mungkin jawabanya “Ya, memang betul adanya.”

Disisi lain, saya memandang bahwa sebenarnya ada faktor lain yang mempengaruhi menurunya ke-eksisan organisasi mahasiswa hari ini. Salah satunya ialah adanya kesungkanan organisasi untuk membuat sebuah perubahan. Dalam beberapa kasus, organisasi hari ini cenderung terlihat stuck untuk mencoba hal yang baru dan visioner. Terlihat lebih memilih berada di zona nyaman atau mungkin hanya sekedar mengikuti angkatan sebelumnya, yang mana salah satu penyebabnya adalah masih ikut terlibatnya demisioner secara intim. Seolah-olah, sang senior memiliki cinta yang begitu mendalam terhadap organisasinya. Melihat argumentasi tersebut, tak dipungkiri dalam hati kita terbenak jawaban “oiya, benar juga.” Tetapi entahlah, mungkin dalam beberapa organisasi saja.

Dalam pengamatan lain, tentunya sebagai salah satu mahasiswa yang berkecimpung dalam beberapa organisasi dan kepanitiaan, saya sendiri memandang, kalau dipikir-pikir hal diatas memang betul adanya. Memang terkadang permasalahan tersebut datang dari kita sendiri sebagai bagian dari organisasi. Namun dalam hal ini, saya sendiri malah lebih terfokus kepada hal-hal yang lebih sederhana, seperti budaya sering menganggap remeh hal-hal kecil dalam organisasi. Sebut saja disini yaitu mengenai kedisiplinan organisasi dan budaya menghargai waktu. Sering mungkin kita temui hal-hal semacam ini dalam beberapa event dan rapat organisasi. Ketika mungkin ada jadwal pertemuan jam 8, tetapi datang jam 10 tanpa alasan yang jelas dan pada akhirnya pertemuan baru dimulai dijam tersebut. Hal sederhana ini lah yang justru memberikan kesan buruk sebuah organisasi di muka umum, dan tentu hal tersebut akan menurunkan nilai tawar sebuah organisasi kedepan.

 Hal sederhana, kecil, remeh temeh, namun jika dianggap sepele akan membudaya dan merusak segalanya. Saya pikir esensi dari sebuah organisasi adalah untuk mengembangkan diri. Apakah yakin dengan selalu adanya budaya kurang baik akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik dan berkembang?

Sering kita dengar manfaat berorganisasi adalah menemukan apa yang tidak kita temukan didalam kelas. Sering pula kita dengar dari mulut para senior akan banyaknya benefit dan proses yang akan didapatkan dalam berorganisasi. Saya sendiri mengakui benar adanya, namun dengan catatan ketika kita bisa berorganisasi secara baik dan benar. Yakinkah berorganisasi akan benar efektif prosesnya jika hal-hal kecil saja kurang bisa kita hargai didalamnya? Apalagi ini adalah permasalahan organisasi di ranah perguruan tinggi. Akan terdengar lucu jika seorang mahasiswa dengan berjuta labelnya, agent of bla bla bla, agent of bla bla bla, namun malah tidak mampu mencerminkan label-label yang ada dalam kehidupan nyata.

Tulisan ini tidak semata-mata dimaksudkan untuk menunjukan keburukan yang ada. Menurut saya hal ini sudahlah menjadi rahasia umum, hampir semuanya mengerti dan paham. Namun, ada hal yang perlu amat disayangkan didalamnya, yaitu adanya upaya menormalisasi hal-hal tadi. Padahal hal tersebut merupakan hal kecil yang menjadi koentji. Pernah mendengar pepatah “hal besar dimulai dari hal kecil?”, ya begitulah maksudnya. Tulisan ini hanyalah sedikit sorotan saya dalam budaya organisasi yang perlu dibenahi. Terlepas memang banyak sekali hal baik yang bisa didapatkan, namun jangan sampai banyak hal baik itu rusak dan terkesampingan dengan hal kecil yang dianggap remeh. Ingat pepatah “Nila setitik, rusak susu sebelanga.” Mari berbenah dan berubah.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memaknai sebuah cinta dari Plato dan Gurunya

KADO REFLEKSI : MILAD 59 TAHUN IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH

Menanggapi kebijakan MarketPlace Guru, Bagaimana?