Perbedaan Preferensi dalam Kontestasi Pemilu 2024: Mengapa?

 

Source: Google

    Berbicara mengenai cara pandang dan respon setiap individu terhadap suatu fenomena tentu akan berbeda satu sama lainya. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi adanya perbedaan tersebut, salah satunya adalah soal background dari individu itu sendiri. Sebagai contoh, seorang muslim memandang babi itu haram untuk dimakan, sedangkan tidak bagi umat Kristiani pada umumnya. Hal tersebut terjadi karena adanya perbedaan ajaran dari agama masing-masing. Contoh lain, si A yang notabenya hidup di keluarga menengah ke bawah menganggap nominal 1 juta itu banyak, lalu si B yang notabenya anak konglomerat menganggap nominal 1 juta merupakan nominal yang sedikit. Hal tersebut terjadi karena adanya kelas sosial yang berbeda antara si A dan B. Dua contoh tadi menjadi contoh kecil bahwa perbedaan cara pandang dan respon individu merupakan hal yang wajar, tidak ada yang lebih salah dan lebih benar diantaranya.

Soal Perbedaan Cara pandang

    Akhir-akhir ini, kita sering diperlihatkan mengenai cara pandang masing-masing individu yang terlalu dipaksakan untuk “dimenangkan”. Setiap individu merasa dirinya lah yang paling benar, menganggap yang lain salah kecuali dirinya. Padahal, mungkin kita telah menyadari bahwa hal tersebut hanyalah subjektivitas semata. Soal subjektivitas, tentu hal ini memiliki keterkaitan yang erat dengan pengantar diatas soal background masing-masing kepala. Subjektivitas sebenarnya bisa diadu, tergantung bagaimana kita memupuk diri kita dengan ilmu pengetahuan.

    Kalau berbicara mengenai background seseorang, tentu kita bisa mengkategorikanya dalam banyak aspek. Mulai dari aspek keluarga, pendidikan, agama, sosial dan masih banyak lagi. Aspek-aspek tersebut lah yang menjadi faktor penentu bagaimana seseorang mengkonstruk cara pandang dan responya terhadap suatu hal. Dengan memahami aspek tadi dalam melihat konstruksi cara pandang, tentu akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih bijaksana dalam meneropongnya.

Perbedaan Preferensi Capres

    Di momentum Pemilu 2024, terdapat tiga paslon yang mencalonkan dirinya sebagai kandidat presiden dan wakil presiden Indonesia kedepan. Tentu dalam momen ini, kita banyak diperlihatkan fenomena perbedaan antar individu, khusunya dalam hal preferensi dalam paslon yang akan dipilih. Tentunya menjadi hal yang sah dan wajar, selama berjalan beriringan dengan nilai kerukunan dalam bermasyarakat. Tidaklah dibenarkan karena perbedaan pilihan, kita saling mencela, memusuhi, mem-bully satu sama lain. Dalam sub ini, penulis akan membahas perbedaan preferensi individu terhadap paslon, yang tentunya memiliki keterkaitan erat dengan pembahasan sebelumnya yakni soal background dan cara pandang.

    Dalam konteks pemilu, seseorang dalam memilih kandidat yang akan dicoblosnya tentu akan bergantung dari cara pandangnya terhadap paslon terkait, dan hal tersebut tentu tidak terlepas dari background pemilih itu sendiri. Mudahnya, akan selalu ada alasan pewajaran mengapa seseorang memilih paslon seleranya. Sebagai contoh, seorang akademisi, pembelajar, peneliti yang sehari-hari bergelut dengan hal-hal teoritis tentu akan cenderung memilih kandidat yang menguasai hal-hal konseptual. Seorang aktivis yang suka demonstrasi, dari kebiasaanya biasanya cenderung memilih kandidat yang memiliki track record baik dalam memperjuangkan hak-hak rakyat, berbicara soal keadilan rakyat. Seorang tiktoker yang suka hal-hal hiburan, barangkali akan cenderung memilih pemimpin yang menarik dan lucu.

    Dengan memahami hal diatas, tentu kita bisa memberikan pewajaran mengapa orang tersebut memberikan preferensi nya kepada kandidat tertentu. Oh wajar dia memilih A, dia anak yang concern di bidang pengetahuan, si A kan memang hebat dalam bidang itu. Oh wajar dia terpukau kepada si B, karena dia seorang akademisi jadi suka terhadap hal-hal yang berbau gagasan. Oh wajar dia suka kepada paslon C yang gemoy, karena dia suka hal lucu dan hiburan. Oh wajar dia suka paslon D, karena si D banyak proyeknya, dia kan memang pencari proyek. Ataupun di balik dengan sistem eliminasi, oh dia memilih A karena dia tidak suka dengan B yang tidak beretika. Oh dia memilih B karena dia tidak suka dengan C yang hanya banyak bicara.  Oh dia memilih D karena dia tidak suka dengan C yang melakukan tindakan nepotisme, dan masih banyak lagi. Penilaian semacam ini memang bersifat subjektif, tetapi setidaknya mampu menjawab rasa penasaran meskipun sementara. Lagi dan lagi, subjektivitas bisa kita tingkatkan kualitasnya melalui pendekatan ilmu pengetahuan.

    Tentunya, menjadi suatu hal penting bagi kita untuk melihat cara pandang serta argumentasi seseorang secara bijak. Dalam hal berbeda pandangan, berbeda pilihan merupakan suatu hal yang wajar dalam negara Demokrasi. Terutama bagi Indonesia, perbedaan telah mewarnai perjalanan sejarah bangsa sejak zaman penjajahan hingga saat ini. Jadi perbedaan bukanlah sebuah soal, yang menjadi soal adalah perbedaan yang menimbulkan perpecahan. Menuju pemilu 2024, yang terpenting untuk diperhatikan adalah menjadikan diri kita sebagai rational voters. Memilih dengan bijak karena kita akan memilih pemimpin negara, sang nahkoda yang akan menentukan bagaimana bangsa kita ke depan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memaknai sebuah cinta dari Plato dan Gurunya

KADO REFLEKSI : MILAD 59 TAHUN IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH

Menanggapi kebijakan MarketPlace Guru, Bagaimana?